Sabtu, 21 Januari 2017

Komando Armada di Papua Segera Dibentuk

Penyebaran Pangkalan TNI Ilustrasi KRI TNI AL

TNI bertekad mendukung pemerintah dalam pembangunan nasional yang dimulai dari pinggiran dan tidak tersentralisasi. Komando Armada III TNI AL pun akan segera dibentuk.

Hal tersebut menjadi salah satu poin hasil Rapat Pimpinan (Rapim) TNI yang digelar selama empat hari. Presiden Joko Widodo meminta TNI mengantisipasi perubahan-perubahan global, termasuk persiapan dari dampaknya.

"Antara lain segera mengadakan penyesuaian penyebaran pasukan-pasukan dan pangkalan-pangkalan yang tidak tersentral di Jawa dan segera melaporkan kesiapan tersebut," ungkap Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo seusai Rapim TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (19/1/2017) malam.

Untuk itu, Gatot pun memerintahkan jajarannya segera menggelar rapim di masing-masing matra. "Segera lakukan rapim tingkat angkatan, baik AD, AL, dan AU. Segera lakukan percepatan untuk pembangunan, kontrak-kontrak sehingga membantu perputaran ekonomi," ucapnya.

"Dan yang penting adalah penyebaran dari pangkalan-pangkalan difokuskan pada tempat-tempat terpinggir agar bisa membuat sentra-sentra ekonomi baru," tambah Gatot.

Saat ditanya mengenai penyebaran pangkalan-pangkalan, Panglima TNI mengatakan ke depan pembangunan difokuskan pada pembentukan komando armada (TNI AL). Sedangkan pembentukan kodam-kodam (TNI AD) dan Komando Operasi (TNI AU) belum akan dilakukan dulu.

"Pembentukan kodam-kodam baru, kemudian koops baru tidak. Tapi (Komando) Armada baru. (Pembentukan) Armada III harus dilakukan," jelas jenderal bintang empat itu.

Saat ini TNI AL memiliki 2 Komando Armada, yaitu Komando Armada Barat (Koarmabar), yang berada di Jakarta dan Komando Armada Timur (Koarmatim). Pembentukan Komando Armada baru akan membantu pemerataan pembangunan dan ekonomi sesuai dengan harapan Jokowi, termasuk untuk menunjang program tol laut.

"Karena kita tahu kita (selama ini) hanya berorientasi pada Armada Timur saja. Maka perlu ada armada satu lagi, tempatnya di sekitar Papua," kata Gatot.

Pembentukan Komando Armada baru ini sebetulnya bukan rencana baru. Penambahan Komando Armada TNI AL itu sejalan dengan rencana pembentukan Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan). Ini juga sudah masuk dalam rencana strategis (renstra) TNI untuk memenuhi minimum essential force (MEF).

Lalu kapan Komando Armada baru ini dibentuk?

"Jadi semua pembentukan rencana ini harus dilaporkan kepada Presiden. Kemudian dianalisis dan diputuskan bersama-sama, baru dilangsungkan," jawab Panglima TNI belum bisa memastikan.

Meski begitu, Gatot yakin pembentukan Komando Armada di Papua akan segera terealisasi. Untuk mendukung ini, sejumlah Lanal di wilayah timur telah dinaikkan menjadi Lantamal.

"Yang bisa tahun ini ya tahun ini dilakukan, segera mungkin," tegas Gatot.

Sebelumnya sempat diberitakan, TNI AL direncanakan akan memiliki tiga Komando Armada dari yang sebelumnya hanya dua, plus satu komando pusat. Koarmatim yang berada di Surabaya disebut akan menjadi Komando Armada RI.

Sementara itu, rencananya Komando Armada Barat tetap berada di Jakarta, Komando Armada Tengah di Makassar, dan Armada Timur di Papua. Penambahan Komando Armada salah satunya juga terkait dengan pengamanan Laut Cina Selatan. (dnu/dnu)

  ★ detik  

Perluasan Kekuatan Armatim untuk Efisiensi Logistik

https://1.bp.blogspot.com/-EKWypIUbxN8/V9t804eaRjI/AAAAAAAAI_E/OdfuQko8udcUcGgDEDr4iXIiauCGIfLkwCLcB/s1600/Uji%2Bcoba%2Bpeluncuran%2BRudal%2BC-705%2Boleh%2BKRI%2BClurit%2B641%2Bdi%2BLaut%2BJawa%252C%2BRabu%2B%252814-9%2529.%2B%2528jawapos%2529.jpgPeluncuran rudal C705 [jawapos]

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi berharap rencana memperluas kekuatan di wilayah militer Armada Timur dapat terealisasi tahun ini. Perluasan kekuatan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasi dan logistik TNI AL dalam misi menjaga kedaulatan NKRI.

"Penggelaran pangkalan itu kan efisiensi operasi. Kalau ada satuan kita dekat dengan daerah operasi, maka efisiensi operasi, efisiensi logistik bisa kita capai," kata Ade usai membuka rapat pimpinan TNI Angkatan Laut di Markas Besar Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (20/1/2017).

Perluasan kekuatan militer TNI AL akan dilakukan secara bertahap. Contohnya Pangkalan Utama AL yang berkembang dari 3 lokasi hingga kini menjadi 14 lokasi.

"Lantamal di Tarakan dulu belum ada, baru lanal. Operasi di Laut Sulawesi itu dari Surabaya, dulu," ujar Ade menggambarkan jarak antara lokasi operasi dengan pusat logistik.

Prajurit yang bertugas tidak boleh kehabisan logistik, mulai bahan makanan hingga bahan bakar kapal, setelah adanya lantamal baru di wilayah timur.

"Artinya bunker-bunker untuk bahan makan itu juga tersedia di daerah operasi, sehingga tidak perlu balik lagi," tegas dia.

Ade juga menjabarkan urgensi peningkatan efisiensi logistik dan operasi di Armada Timur dilatarbelakangi cakupan wilayah militernya yang terlalu luas, mulai perairan Tegal, Jawa Tengah, hingga perairan Papua, yang berbatasan dengan negara tetangga.

"Memang kebutuhan tim saya itu tiga armada. Sehingga tak hanya dua armada (Timur dan Barat) seperti sekarang ini. Kita butuh armada (lagi) di kawasan Timur khususnya, supaya beban Pangarmatim (Panglima Armada RI Kawasan Timur) tidak terlalu berat," jelas Ade.

"Karena wilayah Armatim ini dari mulai perairan Tegal sampai ke perbatasan Papua," sambung dia.

Ade berharap lokasi-lokasi markas komando di bawah Armada Timur yang baru dapat menjadi solusi atas masalah logistik yang selama ini TNI AL alami.

"Bagaimanapun, kapal perang operasinya akan sangat bergantung pada logistik," imbuhnya.

Armabar nantinya akan berganti nama jadi Armada RI 1, Armatim berganti menjadi Armada RI 2 dan armada yang baru akan dinamai Armada RI 3. (fdn/fdn)

  detik  

Marinir TNI AL Uji Coba Ranpur Amfibi BTR-4M

BTR-4M Marinir TNI AL [Angkasa] ★

S
etelah cukup lama menghuni Bumi Marinir Cilandak dan bahkan menjalani penugasan operasional perdananya pada saat penebalan pengamanan Kediaman Wakil Presiden RI pada saat terjadinya aksi unjuk rasa 212, baru kali inilah kendaraan tempur amfibi BTR-4M menjalani uji kemampuan arung lautnya. Pengujian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana BTR-4M dapat memenuhi tuntutan kemampuan asasinya membelah permukaan air dan tentunya mendaratkan pasukan.

Perjalanan dimulai pada Rabu malam, 18 Januari 2017 selepas penduduk Jakarta kembali ke rumahnya masing-masing. Diselingi sisa-sisa macet rush hour, iring-iringan dua ranpur BTR-4M keluar dari Bumi Marinir Cilandak dan membelah jalanan Jakarta. Perjalanan yang terasa istimewa karena ranpur dipacu di jalan raya, tidak digendong oleh truk transporter Tatra. Sekaligus menguji kemampuan lintas jalan rayanya tentu saja.

BTR-4M Marinir TNI AL [Angkasa]

Rute perjalanan melalui tol JORR dengan rute masuk dari tol TB Simatupang, kemudian bablas ke Meruya, Kamal, dan akhirnya menuju pantai Tanjung Burung Tangerang. Kalau tidak melihat sekeliling yang berupa dinding baja yang dipenuhi peralatan, rasanya seperti naik SUV mahal yang nyaman saja saat BTR-4M dipacu kencang.

Setiba di pantai, kedua BTR-4M dipersiapkan untuk uji arung di pagi hari tanggal 19 Januari. Ketika fajar pagi menyingsing, tim dari Korps Marinir dan perwakilan perusahaan KMDB disambut oleh mentari pagi yang cerah, langit yang biru, dan laut yang tenang. Sempurna! Kalau bukan karena kerja, ingin rasanya meloncat ke dalam air dan berenang-renang ria. BTR-4M yang berwarna hijau lumut pun kontras dengan birunya langit yang hanya dihiasi sedikit awan.

BTR-4M Marinir TNI AL [Angkasa]

Setelah final check, dua BTR-4M dengan propeller yang berputar dan trim vane yang sudah mengembang pun masuk ke dalam air laut perlahan, dan kemudian melaju membelah ombak. Kendaraan sangat stabil dan tenang, tidak berbeda kondisinya ketika dibandingkan dengan pengujian di sungai di Ukraina.

BTR-4M Marinir TNI AL [ARC]

Seperti pembaca lihat di foto, jarak antara atap kendaraan dan permukaan laut juga masih berselisih tinggi, berkat penambahan buoyancy kit pada BTR-4M. Tidak ada keraguan sama sekali bahwa ranpur tangguh asal Ukraina ini akan sanggup mengemban tugas untuk melancarkan operasi amfibi yang membutuhkan kendaraan dengan spek khusus.

  Angkasa  

Jumat, 20 Januari 2017

3 WNI Diduga Diculik Abu Sayyaf Adalah Nelayan

Foto dokumen kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina. Kelompok yang mengklaim berafiliasi dengan ISIS ini menuntut uang tebusan bagi 10 WNI awak kapal Brahma 12. [AP] ★

K
epala Kepolisian Resor Selayar, Ajun Komisaris Besar Eddy Suryantha Tarigan mengatakan tiga warga negara Indonesia(WNI) asal Sulawesi Selatan yang diduga diculik kelompok bersenjata Abu Sayyaf adalah nelayan. Mereka bekerja menjadi nelayan sejak Oktober 2015 lalu.

Eddy menambahkan saat itu Sudarling bersama pamannya Hamdan berangkat ke Nunukan dari Pulau Bembe Kabupaten Selayar. Sedangkan Subandri merupakan warga Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. "Mereka ini bekerja sebagai nelayan," kata Eddy, Jumat malam, 20 Januari 2017.

Menurut dia, selama di Malaysia, Sudarling dan Hamdan tinggal bersama keluarganya Muhammad Arsyad. Dan mereka bekerja di Kapal Trawl penangkap udang.

Setelah mendapat informasi terkait penculikan di Perairan Lahat Datu, Malaysia Timur, Rabu 18 Januari lalu. Melalui Kapolres, Bupati Kepulauan Selayar Muh. Basli Ali menyampaikan pihaknya akan memfasilitasi keluarga korban penculikan selama di Kabupaten Selayar, sampai ada kepastian dari Pemerintah Filipina. "Ini hasil koordinasi kami dengan Pak Bupati," tutur Eddy.

Juru Bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Komisaris Besar Dicky Sondani mengatakan setelah mendapat laporan tersebut, pihanya langsung mencoba menghubungi keluarga korban penculikan kelompok militan Abu Sayyaf tersebut. "Kami mendapat informasi jika ada warga Indonesia asal Sulsel yang diculik kelompok seperatis dari Filipina di perairan Malaysia Timur," kata Dicky.

  Tempo  

Panglima Minta TNI AU Jujur Evaluasi Alutsista

"Supaya tidak terus terjadi kecelakaan sebagaimana terjadi akhir-akhir ini..."Kecelakaan pesawat sering terjadi [mediaIndonesia] ★

P
anglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo meminta TNI Angkatan Udara berani secara jujur mengevaluasi kekuatan, terutama yang berkaitan dengan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

"Apalagi sebelumnya kita ketahui bersama, dalam kurun waktu terakhir ini kita masih menemui peristiwa kecelakaan TNI," kata Panglima TNI saat memimpin serah terima jabatan Kepala Staf TNI Angkatan Udara dari Marsekal TNI Agus Supriatna ke Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat.

Gatot meminta TNI Angkatan Udara mengevaluasi alutsista secara jujur, terutama berkenaan dengan pesawat tempur maupun pesawat pasukan.

"Supaya tidak terus terjadi kecelakaan sebagaimana terjadi akhir-akhir ini," ujarnya.

Panglima TNI juga meminta TNI Angkatan Udara menjaga dan mempertahankan wilayah udara Indonesia di tengah tantangan dan ancaman terhadap wilayah udara yang cukup kompleks seiring dengan globalisasi dan perkembangan cepat teknologi.

"Serah terima jabatan dalam era kompetisi global, tantangan akan semakin dinamis, terutama kompetisi wilayah udara. TNI AU dituntut untuk profesional dan menjadi prajurit andal. Sebagai poros maritim dunia, dirgantara sebagai wadah penting nasional. Dirgantara harus dipertahankan dan diamankan," kata Gatot.

 Marsekal TNI Hadi Tjahjanto janji wujudkan "zero accident
Marsekal TNI Hadi Tjahjanto janji wujudkan Dokumentasi puing-puing C-130B Hercules nomor registrasi A-1334 yang jatuh di kawasan Gunung Lisuwa, Kampung Maima, Distrik Minimo, Kabupaten Jayawijaya, Minggu (18/12/2016). Tanpa kecelakaan alias zero accident menjadi fokus kerja Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, yang menggantikan seniornya, Marsekal TNI Agus Supriatna. (ANTARA FOTO/Anyong)

Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, berjanji menerapkan alias mewujudkan kebijakan zero accident atau tanpa kecelakaan pesawat terbang di seluruh jajarannya.

"Kami akan menekan kecelakaan. Kami harapkan zero kecelakan," kata dia, usai serah terima jabatan kepala staf TNI AU dari Marsekal TNI Agus Supriatna kepada dia, di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat.

Serah terima jabatan itu dipimpin Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Hadir juga Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Ade Supandi, Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Mulyono, Kepala Kepolisian Indonesia, Jenderal Polisi Tito Karnawian, dan para petingggi TNI AU serta ratusan prajurit yang menjadi peserta upacara.

Tjahjanto menjelaskan, persoalan yang akan diperbaiki agar kecelakaan bisa diatasi adalah perbaikan manajemen yang menyangkut sistem kesenjataan maupun manajemen personel.

Di tempat yang sama, Nurmantyo meminta dia agar mengevaluasi secara jujur sistem kesenjataan yang dimiliki, terutama menyangkut pesawat tempur maupun pesawat pasukan.

Hal itu supaya tidak terus terjadi kecelakaan sebagaimana terjadi akhir-akhir ini.

  Antara  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...