Sabtu, 20 Januari 2018

Indonesia Puts KC-46A Pegasus, Airbus A330 in Frame for Aerial Tanker Requirement

Boeing KC-46A Pegasus based on Boeing 767. Indonesia is studying the Boeing KC-46A, and the Airbus A330 MRTT to improve its aerial refuelling capabilities. Programme is expected to be the next major logistics aircraft acquisition undertaking after the Airbus A400M [Boeing]

The Indonesian Air Force (Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Udara) has begun a study to expand the service’s aerial refuelling capabilities, with a view on establishing a formal acquisition programme for two airframes by 2024, a TNI-AU official told Jane’s on 18 January.

The aircraft types that are being compared in this study are the A330 multirole tanker-transport (MRTT) from Airbus, and what the Indonesians allude to as a militarised version of the Boeing 767 tanker, in reference to the KC-46A Pegasus.

Issues that will be scrutinised in the study include suitability for Indonesian operational requirements, compatibility of refuelling methods with the TNI-AU’s fleet of aircraft, interoperability with existing and future assets, and life-cycle costs.

Also to be considered are possible local and foreign funding options that can be tapped upon, and potential for transfer-of-technology arrangements with local companies such as state-owned aircraft manufacturer PT Dirgantara Indonesia (PTD), said the TNI-AU official.

A completion of this study will then pave the way for a definition of programme parameters, and the TNI-AU is expected to launch a formal acquisition programme, and funding request from the Indonesian Ministry of Defence, in the 2020–24 timeframe.

Prior to June 2015, the TNI-AU operated a fleet of two pod-equipped KC-130Bs, which were delivered in the early 1960s. One of these aircraft crashed in Medan on 30 June of that year after developing engine troubles, and since then the TNI-AU has had to rely on a single airframe of the type for its aerial refueling needs. The sole KC-130B is currently stationed with the TNI-AU’s Aviation Squadron 32 at the Abdul Rachman Saleh airbase in Malang.
 

  IHS Jane  

Jumat, 19 Januari 2018

Tim VBSS Lantamal X Gagalkan Penyelundupan Senjata

Dari PNG Menuju JayapuraTim VBSS membawa bersama terduga penyelundup senjata

Dua unit Sea Rider dengan Tim VBSS (Visit Board Search Seizure) Lantamal X terpaksa melumpuhkan pergerakan dan menangkap speed boat warna putih list kuning yang dikendarai oleh orang tak dikenal (OTK) dari PNG karena tidak menghiraukan isyarat bendera dan komunikasi dan berusaha melarikan diri dari pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim VBSS Lantamal X. Selasa, (16/01/2018).

Berdasarkan informasi dari Intelejen diperoleh laporan bahwa ada speed boat yang dikendarai oleh OTK melalui jalur laut sedang melakukan penyelundupan senjata dari PNG menuju Jayapura.

Setelah mendapatkan perintah dari Dansatgas Ops. Pamtas Letkol Laut (P) Nouldy J Tangka, Wadan Ops. Pamtas Mayor Laut (P) Alpirut Musa Samban langsung memerintahkan dua unit Sea Rider untuk melakukan pengejaran dan penangkapan. Kedua unit Sea Rider melaksanakan penembakan peringatan kepada speed boat yang menjadi target operasi, akan tetapi tetap melaju dengan kecepatan tinggi akhirnya kedua unit Sea Rider melaksanakan penembakan kearah buritan speed boat yang menjadi target operasi dan mengenai bagian motor tempel dan salah satu orang di speed boat sehingga membuat speed boat mengurangi kecepatannya.

Sea Rider berhasil melumpuhkan pergerakan dan menangkap speedboat yang menjadi target operasi tim VBSS Satkamla Lantamal X melaksanakan peran pemeriksaan dan penggeledahan di speed boat tersebut. Dari hasil pemeriksaan dan penggeledahan tim VBSS menemukan 3 pucuk senjata SA VZ dan tiga orang yang diduga OPM dengan salah satu orang terluka karena terkena tembakan. Kemudian Wadan Satgas Ops. Pamtas memerintahkan untuk melakukan pengawalan speed boat beserta tiga personil dan barang buktinya ke Dermaga Porasko Satkamla Lantamal X untuk menjalani pemeriksaan oleh Tim Intel Satgas Pamrahwan untuk selanjutnya diserahkan kepada Pomal untuk diperiksa lebih lanjut.
 

  TNI  

TNI AL Targetkan Enam Kapal Hidrografi

KRI 933 TNI AL ✈️

TNI Angkatan Laut menargetkan memiliki enam buah kapal hidrografi guna meningkatkan kualitas peta perairan Indonesia. Kapal tersebut lebih canggih dari kapal hidrografi milik negara Asia Tenggara lainnya.

Malah KSAL dari Perancis, sudah pernah bilang akan meniru kapal hidrografi kami, karena kami lebih lengkap,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi di Pusat Hidrografi TNI AL pada Kamis, 18 Januari 2018.

Ade mengatakan kelebihan kapal hidrografi milik TNI AL ialah pada teknologi dan kelengkapan persenjataan yang dimiliki. “Dan beberapa survei yang kita lakukan sudah ada hasilnya, salah satunya kita akan membuat peta bawah air,” ujar dia.

Digenjotnya hidrografi TNI AL, kata Ade, merupakan salah satu upaya menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Menurut dia, penyediaan data ialah hal yang penting.

Ade mengatakan Hidrografi Angkatan Laut memiliki peran penting karena dengan pemetaan perairan yang akurat, maka TNI akan dapat melindungi batas-batas wilayah Indonesia. “Jadi Kapus Hidrosal, mengemban amanah cukup berat,” ujarnya.

Pushidrosal merupakan perwakilan Indonesia dalam bidang hidrografi. Satuan tersebut menyediakan data dan informasi hidro-oseanografi dan memberikan perlindungan lingkungan laut untuk kepentingan sipil dan militer. Kegiatan dari satuan ini antara lain survei, penelitian, pemetaan laut, penerapan lingkungan laut, dan keselamatan navigasi laut untuk pertahanan dalam tugas pokok TNI AL.
 

  Tempo  

TNI AU Butuh Tambahan Radar Hingga "Upgrade" Hercules

CN295 TNI AU ✈️

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI AU masih perlu ditambah.

Hal itu ia sampaikan usai acara serah terima jabatan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

"Kami masih nunggu kedatangan pesawat F5 yang hampir 1,5 tahun para penerbang tidak terbang dengan pesawat tersebut," ujarnya, Jakarta, Jumat (19/1/2018).

Selain itu, TNI AU juga masih memerlukan tambahan 12 radar baru.

Saat ini kata dia, radar TNI AU baru sekitar 20 unit. Diharapkan, dalam rencana strategis ke tiga nanti sudah ada penambahan radar.

Dari sisi pesawat pengangkut, menurut Panglima, TNI AU juga membutuhkan pergantian pesawat Hercules.

"Kami merencanakan pesawat Hercules gantikan dengan tipe Hercules sama namun tipe akan kami tingkatkan menjadi tipe J termasuk pesawat angkut ringan dan helikopter," kata dia.

Sebelumnya, Panglima mengatakan bahwa tugas TNI AU ke depan tidaklah semakin ringan, namun ia yakin kebersamaan seluruh prajurit, akan mampu melaksanakan tugas dengan baik dalam menegakkan kedaulatan dan menjaga keutuhan wilayah Republik.

Khusus di tahun politik, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meminta agar seluruh jajaran TNI Angkatan Udara ikut bersama-sama meneguhkan kembali netralitas TNI.

 Dalam 3 bulan

Sebelumnya, KSAU Marsekal Yuyu Sutisna berkomitmen melanjutkan apa yang telah dicapai pendahulunya, yaitu Marsekal Hadi Tjahjanto yang kini menjadi Panglima TNI.

"Saya akan terus melanjutkan kebijakan dan apa yang direncanakan KSAU terdahulu, baik dalam pembangunan kekuatan atau kemampuan," ujar Yuyu di Istana Presiden Jakarta, Rabu (17/1/2018).

Salah satu prioritas Yuyu adalah menyelesaikan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang sempat tertunda beberapa waktu lalu.

"Harapan saya dalam tiga bulan ini, beberapa hal soal pengadaan alutsista yang tertunda dapat saya selesaikan," ujar Yuyu.

Salah satu alutsista yang sempat tertunda, yakni pengadaan pesawat Sukhoi SU-35. Yuyu berharap tidak harus sampai memasuki Februari 2018, TNI AU bisa menandatangani kontrak pengadaannya.

Yuyu juga akan berkoordinasi aktif dengan pihak Kementerian Pertahanan demi mempercepat pengadaan itu.

"Karena dengan kedatangan alutsista, tentunya akan memperkuat kami dalam melaksanakan tugas," ujar Yuyu.

Selain Sukhoi SU-35, pengadaan alutsista yang sempat tertunda, antara lain radar, radar pasif dan pesawat tanpa awak.

Jabatan KSAU kosong setelah Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dilantik menjadi Panglima TNI. Sebelum dilantik sebagai KSAU, Yuyu menjabat Wakil KSAU.
 

  Kompas  

Kamis, 18 Januari 2018

[Video] Tank Tanpa Awak

Liputan KompasTvTampak tak ada yang berbeda dari tank tempur ini. Namun siapa sangka, tank tempur ciptaan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Surabaya merupakan tank tanpa awak.

Dengan memanfaatkan koneksi jaringan nirkabel, kendaraan tempur ini mampu dioperasikan dari jarak jauh dengan jarak jelajah hingga 500 meter.

Komponen-komponen tank tempur tanpa awak ini terdiri dari alat pemancar, elektrik kopling, serta alat pendukung lainnya. Tank tempur ini terbuat dari tank bekas yang sudah tidak terpakai lagi, kemudian mesin diperbaiki hingga bisa kembali dijalankan.


  Youtube  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...